Yoo everyone gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya,
jadi di postingan pertamaku ini aku akan menceritakan salah satu kisah nyata yang terjadi pada 3 orang tentara amerika serikat, dimana ketiga tentara tersebut terjebak selama 34 hari di lautan ganas pasifik guys, hari demi hari yang melelahkan penuh dengan rintangan, mereka lewati di atas perahu karet yang kecil hanya untuk mereka duduk. Dan seperti apakah kisah perjuangan ketiga tentara ini.
Guys Sebelum ke kisahnya Aku mau disclaimer dulu ya guys
Jadi cerita ini berdasarkan kisah nyata yang aku dapat dari beberapa sumber ya guys, dan tujuan video ini di buat hanya sekedar untuk edukasi. Nama nama tokoh dalam cerita ini adalah benar2 nama dari tokoh tersebut,
So langsung aja siapkan posisi terbaik kalian, end lets get to the story line
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jadi guys Awal kisah tepatnya pada bulan pertama tahun 1942
SUDAH lebih dari sebulan kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat yakni USS Enterprise (CV-6) berlayar di Samudera Pasifik Tengah,
sejak pembokongan Jepang atas Pearl Harbor.
Pada bulan pertama tahun 1942, USS Enterprise –bertindak sebagai kapal komando Divisi Kapal Induk ke-2 AL dengan panglima Laksamana Madya William Halsey Jr.– yang sudah sangat ingin untuk membalas dendam atas serangan jepang.
Di atas kapal induk tersebut terdapat 90 pesawat terbang. Salah satunya pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator yang diawaki Aviation Chief Machinist Mate (ACMM, setara sersan mayor) yakni Harold Dixon, penembak A. J. ‘Tony’ Pastula, dan opsir radio Gene D. Aldrich.
Menjelang misi rutin pada Jumat petang, tepatnya 16 Januari 1942, Dixon punya perasaan tak enak. Perasaan tak enak itu baru pertamakali dialaminya dalam 22 tahun masa tugasnya sebagai penerbang Angkatan Laut,
Dixon berkata Kebanyakan pelaut percaya akan hal takhayul. Lucunya beberapa hari sebelum 16 Januari seiring kapal kami berlayar ke selatan Pasifik, ia memiliki perasaan aneh bahwa sesuatu akan terjadi. Sulit untuk mengabaikan perasaan itu karena beberapa hal kecil yang aneh juga terjadi padanya,”
Saat Dixon sedang makan siang menjelang misi pada saat petang nanti ia mengaku muncul dorongan dari hatinya untuk makan dua atau tiga kali lebih banyak. Saat selesai makan dan melewati kabin medis, tiba-tiba ia diajak masuk ke kabin oleh salah seorang petugas medis.
Tetapi Dixon tak mengungkapkan semua itu kepada Aldrich dan Pastula . Kala waktu menunaikan misi patroli tiba, Dixon setenang mungkin memimpin keduanya naik ke pesawat TBD Devastator mereka yang bernomor ekor 0335. Pastula dan Aldrich tak pernah menduga bahwa itu akan jadi misi yang berujung petaka yang membuat mereka menjadi penerbang pertama yang hilang di Perang Pasifik.
Petaka itu bermula setelah mereka sudah tinggal landas dari geladak USS Enteprise. Semakin lama mereka terbang, situasimakin pelik. Diperparah cuaca buruk, Dixon berkali-kali sibuk memerhatikan kompas dan petanya lagi, hingga akhirnya ia mengakui telah tersesat.
“Patroli di hari itu benar-benar menjadi penyebab utama kejadian. Selain harus terbang pada petang hari, kumpulan awan yang menurunkan hujan membuat mereka sulit melihat lautan, hingga entah bagaimana pesawat mereka pun tersesat. Selama berjam-jam dixon mencari arah kembali ke kapal (induk) sampai bahan bakar hampir habis. karena keadaan tersebut akhirnya ia harus membawa pesawat mendarat di air,”
Dengan kemampuannya untuk pendaratan darurat akhirnya Pendaratan pesawat di airpun berhasil
Dixon ternyata bisa mendaratkan pesawat di laut dengan selamat, ia kemudian berusaha meraih perahu karet dan ketika Dixon berupaya membuka kaleng CO2 yang macet demi mengembangkan perahu karet, Aldrich dan Pastula yang diperintah membawa perlengkapan itu justru bergulat maut. Pastula membantu Aldrich melepas sabuk pengamannya agartidak terbawa tenggelam bersama pesawat.
Setelah kejadian menegangkan itu terlewati akhirnya mereka bertiga berhasil berada di atas perahu karet. tetapi setelah itu Dixon mengakui nasib sial mereka terjadi justru saat sudah keluar dari pesawat dan sudah berada di atas perahu karet . ternyata Mayoritas perlengkapan surival seperti makanan, persediaan air, dan pistol suar justru gagal terselamatkan dan akhirnya tenggelam Bersama dengan pesawat mereka.
Mereka akhirnya hanya bisa berharap pada hujan untuk mendapatkan air tawar untuk diminum. Di saat kritis itulah keyakinan mereka diuji. Selain kegigihan untuk bertahan hidup, nasib mereka bergantung pada belas kasih Sang Pencipta. Terlebih mereka hanya bertiga di lautan itu. Optimisme mereka meningkat tatkala melihat sebuah pesawat terbang di atas mereka.
mereka berteriak sebisanya. Namun ketika pesawat itu berlalu, hati dixon ikut tenggelam ke dasar laut. ia mengerti prosedur itu. Laksamana (William Halsey Jr.,) yang saya kenal takkan mengambil risiko mengerahkan segenap armada hanya untuk menyelamatkan satu pesawat itu berarti mereka benar2 kehilangan harapan untuk di selamatkan,” .
Jam demi jam bahkan hari demi hari mereka lalui diatas perauh karet, setelah mereka terpaksa menahan dahaga dan lapar hampir satu pekan, hujan deras akhirnya turun. Dixon, Aldrich, dan Pastula buru-buru merentangkan pakaian untuk menampung air hujan yang kemudian mereka peras lalu airnya dan mereka tampung di kantung air.
Seketika Optimisme mereka bertiga berubah jadi pesimisme untuk tetap hidup dan keluar dari masa sulit itu.
Air persediaan itu harus dijatah untuk minum bertiga. Mereka berharap hujan turun lagi sebelum persediaan air habis.
Selain air, masalah yang membelit mereka adalah tempat untuk tidur.
Setelah berhari tidak tidur karena berusaha memikirkan cara bertahan hidup mereka baru tersadar tak bisa tidur. Perahunya hanya delapan kaki. Dimensi di dalamnya lebih kecil, hanya 80x40 inci. Mustahil cukup ruang untuk kami bertiga beristirahat dengan nyaman,”
Keputusan segera diambil Dixon sebagai solusi. Secara bergiliran satu dari mereka mesti melek setiap empat jam sekali guna mendapatkan ruang untuk merebahkan diri untuk tidur kedua rekannya.
Akhirnya rasa laparpun mulai menghantui mereka bertiga karena sudah berhari2 tidak makan dan akhirnya Untuk urusan perut, Aldrich menjadi andalan dua rekannya karena beruntung masih menyimpan pisau lipat di sakunya. Pisau itu lalu dimanfaatkannya untuk mencari ikan kendati sempat dikhawatirkan Dixon pisau itu akan mengenai perahu karetnya.
Namun alih-alih mendapat ikan segar berukuran kecil, pisau Aldrich justru menghujam seekor hiu yang melintas di area perahu mereka.
Dengan pisaunya, Gene (Aldrich) menusuk badan hiu yang meronta2 hingga akhirnya hiu itupun melompat ke perahu. Tony (Pastula) ikut memeganginya hingga tikaman berikutnya yang membuat hiu tersebut mati.
Setelah 10 menit bergulat dengan hiu, akhirnya mereka bisa memotong-motongnya,
Namun sayangnya mereka hanya bisa menyantap daging ikan tersebut mentah-mentah, tetapi daging ikan hiu itu sudah bisa memperpanjang hidup mereka. Beberapa bagian daging lalu disimpan di dalam kaus kaki yang dibasahi air laut agar bisa awet selama beberapa hari.
Selain daging hiu, menu lain yang sempat mereka nikmati adalah daging burung albatros. Tepatnya Pada suatu pagi, burung itu hinggap di salah satu ujung perahu. Beruntung Pastula menyimpan pistol di sakunya akhirnya Burung malang itu segera dimangsa peluru pistol M-1911 yang ditembakkan Pastula.
Begitu mati dan tercebur ke laut, disinilah ketegangan terjadi, karena perburuan ikan hiu beberapa Waktu sebelumnya ternyata darah hasil tusukan pada ikan hiu tersebut memancing hiu hiu lainnya untuk mengitari perahu mereka.
tetapi karena keadaan yang mengahruskan mereka untuk tidak menyia nyiakan burung tersebut akhirnya burung itu diambil oleh Dixon yang buru-buru nyemplung untuk menghindari jadi mangsa hiu yang masih banyak di sekitar perahu mereka.
hari demi hari dan sudah beberapa pekan mereka lewati
Dan suatu Ketika mereka di hadapkan dengan badai tropis yang menerjang mereka, dengan segalah upaya mereka berusaha menjaga agar tetap aman di atas perahu karet, akhirnya badai itupun terlewati.
Entah di hari ke berapa, Dixon tiba-tiba teringat pada skema peta sebelum pesawat mereka jatuh. Peta itu ikut hilang bersama persediaan makanan dan air, namun tidak dengan kompas yang masih dikantongi Dixon. Lantaran mulai ingat skema peta yang didapat dari briefing sebelum misi, Dixon menggambarnya ulang dengan pensil di atas jaket pelampung. Ia pun mulai memperkirakan posisi mereka dan posisi kepulauan terdekat yang bisa mereka capai.
Dixon sudah mempelajari peta-petanya dan kemudian ingatannya kembali tentang di mana saja posisi-posisi pulau-pulau di peta itu. Ke arah barat dan utara dari posisi (jatuh) mereka terdapat Kepulauan Jepang. Tentu mereka harus menghindari area tersebut karena jika sampai terdampar di sana maka sia sia perjuangan mereka untuk bertahan hidup. semntara untuk Ke timur adalah kepulauan tak berpenghuni. Harapan mereka hanya bermanuver ke arah selatan dan timur, letak kepulauan yang lebih bersahabat, sembari berharap mereka berjumpa sebuah konvoi kapal Amerika,”
Dixon, Aldrich, dan Pastula lalu berusaha mengarahkan perahu dengan memanfaatkan angin. Mereka juga membuat jangkar darurat dari jaket pelampung dan kawat, dan menggunakan sol sepatu sebagai dayung. Mereka berusaha mengarungi 30-40 mil setiap harinya.
Mereka terus berusaha meski berhari-hari menahan rasa lapar, haus, serta terik matahari saat siang dan badai tropis kala malam.Pada hari ke-34, Aldrich dengan tenaga tersisa berteriak kepada atasannya.
Bahwa ia melihat ladang jagung yang indah. Ia melihatnya dengan jelas, dan ia melihat sesuatu dari kejauhan
Perjuangan mereka yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan itu akhirnya berbuah manis. Daratan yang dilihat Aldrich adalah Atol Pukapuka di gugusan karang Kepulauan Cook, 750 mil dari lokasi jatuhnya pesawat mereka.
Bagi mereka itu suatu mukjizat. Pasalnya di belakang mereka sudah berkerumun lagi awan hitam dan angin yang mulai berhembus kencang. Pertanda badai bakal kembali menerjang, seperti halnya beberapa hari sebelum mereka melihat daratan, di mana mereka nyaris mati dihempas badai tropis.
beruntung mereka melihat daratan itu di waktu yang kritis. Jika ditambah satu hari lagi (di laut) mungkin badai akan menuntaskan apa yang gagal dilakukan oleh badai sebelumnya dan dilakukan oleh rasa lapar, haus, angin, matahari dan hiu itu berarti mungkin badai tersebutlah yang akan mengakhiri hidup mereka,”
Dengan tenaga tersisa, mereka mendayung perahu menuju Pukapuka. Ketika sampai di perairan dangkal, mereka turun dan dengan tertatih-tatih mencapai daratan.
Akhirnya mereka ditemukan dan dirawat penduduk asli pulau itu. Setelah seminggu dirawat dan pulih, mereka bisa membuat isyarat untuk bisa dideteksi sebuah pesawat Amerika. Tak berapa lama, Dixon, Pastula, dan Aldrich dievakuasi oleh para kru kapal penyapu ranjau USS Swan,”
Setelah pulih akhirnya mereka kembali ke USS Enterprise yang berlabuh di Pearl Harbor pada 17 Maret 1942, mereka disambut Laksdya Halsey dan Panglima Armada Pasifik Laksamana Chester Nimitz. Atas keteguhan jiwa dan fisik mereka, Nimitz menganugerahkan medali Navy Cross pada Dixon dan piagam Presidential Commendations pada Aldrich dan Pastula. Kisah mereka diangkat ke layar lebar pada tahun 2014 oleh sineas Brian Falk bertajuk Against the Sun. jadi buat kalian yang nggak asing dengan kisahnya mungkin kalian pernah nonton film against the sun guys
![]()
sooo dan berakhir sudah kisah tiga tantara Angakatan laut amerika yang terjebak selama 34 hari di lautan pasifik
dan jika ada tmbahan silahkan berikan di kolom komentar
pesan dari kisah ini bahwa dengan kegigihan yang kuat serta tekad yang besar sesulit apapun keadaan yang kita lalui jika dengan Kerjasama pasti akan terlewati.
dan akhir kata dari saya apabila ada kekurangan saya mohon maaf
sekian and Adios, see you to next video
ConversionConversion EmoticonEmoticon